Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Perlunya Tenaga Lapangan Yang benar

Pelaku:

Tenaga Lapangan, Tenaga lapangan yang sering di sebut PPL(untuk perusahaan kemitraan) atau TSR (untuk perusahaan obat atau pakan), adalah sebagai wakil dari perusahaan untuk menangani masalah dilapangan.

Sebagai wakil perusahaan mereka diharapkan bisa menangani semua permasalahan yang timbul dilapangan minimal memberikan informasi balik pada perusahaan apabila dirasa permasalahan belum mampu diselesaikan.

Mari kita lihat kenyataan dilapangan, masih banyak perusahaan menggunakan :tenaga lapangan tidak sesuai bidangnya, seorang sarjana pertanian menangani/membimbing peternak untuk menghasilkan produksi yang baik, seorang yang bukan dokter hewan memberi rekomendasi pengobatan pada hewan yang sakit, atau seorang yang bukan ahli nutrisionis memberi saran menggunakan ransum atau komposisi pakan pada peternak yang kebingungan karena kwalitas pakannya jelek.

"Apakah ada yang salah dengan itu semua?"  jawabnya tidak ada yang salah, boleh boleh  saja perusahaan yang bergerak di bidang peternakan menggunakan tenaga sarjana pertanian menjadi 'konsultan' peternakan, juga boleh saja seorang yang bukan dokter hewan memberi advis tentang kesehatan hewan, atau bukan nutrisionist memberi konsultasi tentang ransum.

Yang jadi masalah disini adalah tepat atau tidak untuk memberikan konsultasi/saran kepada seorang peternak yang berharap hidup dari usaha beternak ayam. Lebih jauh lagi bagaimana kwalitas hasil produksinya sampai di tangan konsumen, layak dikonsumsi atau tidak, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita gali dari proses 'ketidak tepatan' pemilihan tenaga lapangan ini.

Beberapa alasan yang mungkin akan dikemukakan oleh perusahaan yang melakoni 'ketidak tepatan' ini misal:

Kami punya Dokter hewan atau kami punya sarjana ahli Nutrisionist apabila tenaga lapangan ada masalah bisa berkonsultasi/berkoordinasi dengannya, Dalam hal ini alasan masih bisa diterima.

Bagaimana kalau perusahaan mengatakan 'tenaga yang sesuai bidangnya terlalu mahal'... (???),  jadi perusahaan akan mencoba menghemat biaya pegawai tapi dengan mengorbankan pihak lain (peternak) untuk merugi karena 'ketidak tepatan' yang sangat besar potensinya dilakukan tenaga lapangan yang bukan profesinya.

Alasan lain dari perusahaan menggunakan tenaga lapangan yang tidak sesuai dengan profesinya adalah adanya training budi daya peternakan yang dilakukan secara berkala oleh  tenaga tenaga ahli, sepintas alasan ini tidak masalah tapi mari kita lihat lagi,

Kalau tenaga lapangan ini akan 'dijadikan peternak’ tidak masalah, tapi kalau dia akan dijadikan 'konsultan peternakan’ saya rasa perlu dikaji ulang pernyataan tersebut diatas.

Suatu ketika penulis berkunjung ke sebuah peternakan ayam potong, kebetulan ada masalah kesehatan di kandang tersebut, penulis  bertanya pada pemilik peternakan, dan dijelaskan bahwa ayamnya sakit pencernaan, sudah didiagnosa oleh tenaga lapangan

Hebatnya dari kasus ini penyakit didiagnosa bukan oleh dokter hewan dan tanpa bedah bangkai. "Hanya orang yang terbiasa (terlatih) yang bisa mendiagnosa seperti saya" peternak menirukan pernyataan tenaga lapangan tersebut.

Anda bayangkan kalau diagnosa dari tenaga lapangan tidak tepat, berapa kerugian yang ditanggung oleh peternak dari tambahan obat yang harus dikeluarkan, bila diagnose tidak tepat sehingga kesembuhan yang diharapkan tidak terjadi ditambah lagi dengan kematian yang timbul, saya jadi ingat sebuah iklan di televisi yang bisa mewakili kejadian ini, “Untuk anak kok coba coba” sebuah iklan obat anak.

Penulis percaya kasus seperti diatas pernah dan mungkin sedang terjadi saat ini, walaupun tidak sama persis, intinya adalah hasil diagnosa dari seorang yang tidak berkompeten dibidangnya (kedokteran) mencoba bertaruh memberikan diagnosa yang kemungkinan akan berakibat:

1. Kerugian karena salah diagnosa mengakibatkan gagal pengobatan, pembengkakan biaya produksi.

2. Kematian ayam karena gagal pengobatan, ayam yang mati potensi dijual sebagai tiren.

3. Ayam yang tersisa biasanya langsung dipanen untuk mengurangi kerugian lebih banyak, pernah kah anda berpikir akibat dari panen ayam yang tersisa tadi yang masih dalam masa pengobatan atau kurang dari 5 hari setelah pengobatan, terjadi yang disebut "RESIDU" obat  pada ayam yang dijual. Pertanyaannya maukah anda mengkonsumsi ayam tersebut?

Kalau anda tidak mau kenapa orang lain (yang tidak tahu kalau ayam tersebut mengandung residu obat) yang anda paksa untuk mengkonsumsinya?

4. Apabila peternak tersebut adalah peternak plasma, bisa dipastikan rugi biaya operasional, berarti periode kegagalan mendapat rejeki penghasilan.

Pemilihan Tenaga  lapangan sesuai profesi bidangnya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu perusahaan dan budidaya peternakan, sehingga bisa membantu ketenangan dalam berusaha juga bisa menjamin kwalitas yang baik dari hasil produk peternakan sampai di konsumen. Sehingga kita sebagai peternak dapat menepuk dada sebagai pahlawan (tanpa tanda jasa) yang telah menyumbang keberhasilan dalam peningkatan kwalitas generasi penerus bangsa dengan penyediaan gizi yang baik dan halal.


Kembali ke Daftar Manajemen